Mereka selalu bilang.. "Pengen rasanya lari kayak gini Zez
Siapa sih yang tidak ingin menjadi sempurna dan mempunyai kehidupan yang sempurna?
Siapa sih yang ingin terlahir bukan menjadi orang yang sempurna?
Yang jelas, semua orang pasti menginginkan kehidupannya se-sempurna mungkin khan...?! :)
Tapi apa dan bagaimana ukurannya kehidupan yang sempurna itu? Melalui kaca mata manusiakah? Melalui kaca mata kita sendiri, orang lain ataukah kaca mata Tuhan?
Dulu, sekitar 5 tahun yang lalu adalah AA, salah satu teman yang berbisik ke telinga saya.. tentang komentarnya pada salah satu teman yang lain..
"Zez.. betapa beruntungnya dia ya. Masih muda, dan hidupnya sudah lengkap. Karir, pasangan hidup, anak dan keluarga idaman sudah dia miliki. Dan mereka bahagia. Sedangkan kita belum seperti dia..."
"Kapan ya kita dikasih Tuhan untuk seperti dia?? Yaaa.. gak muluk-muluk deh.. pacar ajah deh dulu.. hahaha.. Klo dikasih sekarang gw pasti mau deh merit. Eh.. eh.. tapi kayaknya maka itu gw belom dikasih karena gw juga belum tentu bisa jaga anak kali yee.. eh belum bisa ngurusin urusan rumah tangga kali ye... Atur diri ajah belom bisa, gimana mau ngurus suami ma anak.. huehehehehe... Ya gak sih?".
Meskipun tersirat rasa ingin memiliki apa yang orang lain punyai, AA menyadari dirinyapun belum sanggup jika Tuhan memberinya hal yang sama.
Lucu.. tapi itulah kenyataan dalam diri setiap orang selalu ada sifat iri. Hanya kadarnya yang mungkin harus dinetralisir. Jangan berlebihan, dan jangan pula kurang.
Lah kok kenapa begitu..?
Maksudnya saya.. sifat iri itu bisa dijadikan motivasi untuk mencapai segala sesuatu ke arah yg positif. Dengan adanya rasa iri sedikit, kita bisa memacu diri kita untuk mendapatkan apa yg kita cita-citakan dengan menyesuaikan kondisi serta kemampuan kita.
Sedangkan iri yang berlebihan, inilah yang harus dikikis dengan segera. Kenapa? Karena... akan menjadikan kita seorang yang tidak mengukur diri & bisa menjerumuskan kita ke hal-hal buruk.
Eh, eh.. denger bisikan begitu? Ada reaksi rasa di dalam hati. Bentuknya? iri.. hmm cemburu.. arghh.. kayaknya gak itu kali ya penyebutannya.. tapi mungkin hal yang sama dirasakan oleh kawan tersebut.
Penghiburannya apa?... Hanya sedikit bergumam & berisik dalam hati.. 'Tuhan pasti punya rencana lain untuk setiap umatNya. Tidak untuk sekarang, tapi pasti ada untukku nanti!'. Itu salah satu cara untuk membesarkan hati kita untuk tidak meneruskan dan memupuk rasa iri berlebihan.
Bingung ya utk cerita saya ini?
Gini.. gini ceritanya...
5 tahun yang lalu.. saya dikenalkan oleh seorang kawan (AA) dengan teman kerjanya dulu. Sebut saja perempuan itu dengan PM. Tampak baik dan memiliki keluarga yang harmonis dengan dikaruniai seorang anak laki-lakinya.
Bisikan yang tadi di atas merupakan sepenggalan kejadian ketika mereka masih terlihat bahagia.
3 tahun dari perkenalan itu, kami cukup berkawan akrab.. tak hanya dengan PM tapi juga dengan suaminya (AR). Bukan cuman teman main dan kongkow2x, bahkan kami juga mengerjakan beberapa bisnis bareng. Masuk tahun ketiga perkenalan inilah, tiba-tiba PM menggelar conference di ruang meeting kantor. Dia mengatakan rumah tangganya dalam keadaan tidak baik dan mendapat cobaan. AR berselingkuh! Waaah...
Kaget? Ya mungkin, sedikit. Kenapa tidak banyak?? Ya karena kami tahu, tidak ada api jika tidak ada asap.
Kami hanya tahu, sosok istri seperti PM layaknya memang harus menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus fokus dan memperhatikan suami dan anaknya, jika dia memang telah memutuskan untuk menikah serta berkomitmen berumah tangga. Sedangkan PM? Kita menilai, kerja serta karirnya merupakan hal di atas prioritas tersebut. Jika hasilnya terjadi begini? Apakah salah? Ya gak salah-salah amat jika suaminyapun berselingkuh seperti yang dia ceritakan.
Terlintas, ada pikiran bahwa kami-pun punya andil atas terjadinya hal itu? Kenapa? Terkadang, kami lupa.. bahwa PM sudah berkeluarga. Kami lupa untuk sering2x mengingatkannya segera pulang ketika malam sudah larut kita masih ngumpul2x bareng dan tertawa cekakak-cekikik. Kami lupa, bahwa PM bukanlah seperti kami saat itu yang masih bebas & belum memiliki tanggungjawab terhadap suami dan anak. Dilema? Ya mungkin, PM memposisikan dirinya masih bebas seperti kami, tinggal angkat telefon dan memberitahu hari ini, malam ini, saat ini masih bergaul dengan ini, dengan itu, disana dan disini pada suaminya AR.
Yang jelas, sepenglihatan kita-kita... PM adalah perempuan yang paling beruntung dan diberi nikmat banyak oleh Tuhan. Kehidupan yang lengkap, serta pasangan yang mengerti kemauan dan keinginannya. Dan jika kali ini dia dicoba Tuhan dengan kejadian yang menimpa suaminya itu, hanyalah teguran untuknya untuk menjadikannya seorang istri yang lebih baik.
Kawan saya ini bertanya, apa yang sebaiknya yang ia lakukan untuk rumah tangganya itu?
Dia bilang sangat takut, apakah dia juga harus kena karma yang selalu menimpa kehidupan rumah tangga perempuan2x pekerja di kantornya, yang berakhir dan selalu berantakan karena bekerja di kantornya itu?
Lah... kok ngomongin karma ya? Menurut saya, bukan itu. Emangnya kantornya memakai sistem tumbal? Hihihi.. Ya, mungkin. Tapi buat apa?
Sebagai manusia beriman.. tidak layak kita menyalahkan atau mengalihkan penyebab terjadinya hal yang menimpa diri kita dengan hal-hal yang kita sendiri tidak ketahui secara nyata. Lihatlah itu dengan mata terbuka dan hati yang ikhlas. Renungin apa yang telah kita perbuat selama ini dan apa yang menimpa diri kita, hingga kita mendapat solusinya.
Saya dan kawan2x lainnya hanya bisa menghibur. Kita semua turut prihatin dan terdiam (atau turut merasa bersalah ya? Entahlah!
Hanya separagraf yang saya ingat waktu berusaha membantunya mencari jalan keluar 3 tahun lalu itu, bahwa semua persoalan pasti ada jalan keluarnya, jika memang dipikirkan secara matang & tenang.
Saya menyarankan.. apapun yang kelak diambil olehnya harus diputuskan secara matang dan bukan dalam keadaan emosional, karena keputusan apapun yang akan diambil oleh dia dan suaminya, semua dampak & akibatnya bukan dirasakan oleh mereka berdua lagi. Tapi juga akan dirasakan oleh orang lain, keluarga besar kedua pihak, terutama anak mereka yang semata wayang.
Gelas memang sudah retak atau pecah. Tapi apabila kita sayang dan nyaman dengan gelas itu dan berkeinginan kuat memakainya serta mempergunakannya lagi.. tentu saja masih bisa! Gelas itu dapat bersama2x diperbaiki lagi, dikasih lem kaca dengan telaten & teliti agar tidak ada kebocoran sana-sini jika dituang air ke dalamnya. Dan jika telah kembali baik dan terlihat cantik, Janganlah mengungkit siapa yang dulu telah meretakan dan menyebabkan gelas itu jatuh dan menjadi cacat. Karena nantinya akan kembali mengorek luka hati yang mungkin belum bisa kering sampai batas yang masing2x tidak ketahui.
Itu hanya saran saya yang mungkin sangat mudah untuk diucapkan & dikeluarkan, tapi pasti gak gampang bagi yang sedang menjalankannya toh?! Hehehe.. Kenapa begitu? Wong saya juga pernah kok merasakan seperti itu, maka itu bisa ngoceh panjang kali lebar sok tau gini... Hihihi... (itu dulu! jaman pacaran.. jaman tahun jebot dan kuda gigit besi. Masih pacaran ajah sakit. Apalagi ketika sudah jenjang yang lebih tinggi gini ya.. tersayat2xnya udah gak bisa dibayangkan deh!)
Kala itu, saya bertanya apa yang akan dia perbuat setelah ini? PM diam. Dan bilang.. "Kalau tidak ingat anak, gw kepinginnya kita cerai. Gw gak kebayang. Lihat mukanya saja gw sekarang jijik. Gw gak tau mau bagaimana nantinya rumah tangga gw".
Saya hanya menitip pesan, kalau memang ingat anak dan masih ingin memberikan dia dan melihat dia tumbuh dewasa dalam keluarga yang utuh & kebersamaan dalam sebuah keluarga harmonis padanya, berikan dengan ikhlas dan rela.
Yang artinya, benar2x memaafkan pasangannya dan menjalankan kewajiban sbg istri seperti dulu sebelum adanya kejadian tersebut. Dan jika memang dia merasa tidak bisa memaafkan dan ingin berpisah, keadaannya harus berakhir dengan indah, seperti awal mereka bertemu. Bukan dalam keadaan penuh emosi, benci dan dendam.
Beberapa harinya, PM cerita... dia sudah mengambil keputusan tidak bercerai! Tapi untuk kembali melayani? Dia gak mau berkata bohong.. dia belum bisa. Tapi dia janji, dengan sejalannya waktu dia akan berusaha. Update news nya PM saat itu, dia sudah memperbaiki suasana rumah dengan berbaikan kembali dengan si suami.
3 tahun setelahnya, kita menduga ada yang ditutupi oleh PM. Kita gak terlalu mendengar keluhannya lagi. Hanya pelarian untuk bekerja keras yang tidak dapat dia tutupi dari kami teman2xnya. Tauk kenapa? Dia makin menjadi. Tapi pergi jalan dengan kami? Tidak lagi. Seakan menghilang dan menghindar. Gak tauklah. Mungkin kejadian yang sama seperti dulu pernah terulang lagi, dan mungkin dia malu dan tidak ingin berbagi cerita dengan kami. Atau.. memang dia telah berjiwa besar untuk menerima semua keadaannya. Yaa.. istilah saya dan kawan2x.. "Aman2x Ajah". Hehehehe...
Pandangan yang salah rupanya! dan dugaan yang salah dari kami semua yang sempat mendengarkan cerita PM kala conference 3 tahun lalu.
Hari ini saya, disapa PM lewat Yahoo Messager.. Hmm... gak biasanya. Karena kan tadi sudah dibilang.. kita sudah jarang lagi berhaha hihi dan bercerita secara detail keadaaan masing2x. Entah gak cocok waktunya atau memang kaminya yang sedang tidak punya mood bareng.
"Zez.. "
"Sibuk gak?"
"Gw mau ngomong"
"Zez... gw lagi punya masalah gede sebenernya"
"Gw mau divorce"
"Hari ini gw keluar dari rumah"
"Gw gak kuat. Dikantor mewek melulu. Malu sebenernya, tapi mau diapaain lagi."
"Gw mau kesitu yaaaa Zezzz... malu gw di kantor gak enak keliatan nangis"
Gak lama, PM dateng ke kantor... Duuuh.. liat keadaannya... kasian banget, prihatin dan nelongso. Bukan PM yang dulu. Yang masih tegar & tersenyum biar dia punya masalah. Ada apa? Kenapa dengan dia?
Baru liat saya di depan pintu ruang kerja saya aja, dia sudah nangis sambil teriak meraung-raung... "Zezzz... gw udah gak tahan. Gw gak sanggup. Yang selama ini gw tutupin gw gak bisa lagi jalaninnya lagi. Gw gak kuat. Gw bohong sama elo soal dulu"
Hari ini, kawan kita ini bercerita sambil nangis dan sesegukan. Dia bilang.. saran saya dulu untuk menerima secara ikhlas suaminya dan kembali untuk benar2x melayani suaminya gak sanggup dia jalanin. Dia ternyata sudah gak kuat untuk menutup-nutupinya lagi. Dia selalu disalahkan dan dianggap orang yang tidak dapat memaafkan, tidak melayani suami dan bukan istri yang baik.
Diantara isak tangisnya, PM menjelaskan.. seandainya selingkuhan suaminya itu dulu bukan laki2x, pasti dia masih mau mencoba kembali melayani & menjalankan kewajibannya sebagai istri, sesuai saran saya dulu... menutup luka dan berusaha kembali memperbaiki tanpa mengungkit masalah itu.
PM bercerita, sejujurnya selama 3 tahun itulah, dia berusaha mencari tahu & belajar untuk bisa mengerti peristiwa yang tengah menimpanya dan memahami apa yang sedang dialami suaminya, mencari penyebabnya dan mendiskusikannya dengan suami, meskipun selama proses itu dia tetap merasa risih & jijik.
Hingga pada limitnya dia tidak kuat untuk menerima dugaan-dugaan dari sekelilingnya yang seakan bertanya & mengatakan bahwa kenapa dan kenapa dirinya tidak berusaha utk memperbaiki keadaan dan menerima ikhlas ke-khilaf-an seseorang, apalagi orang itu teman hidupnya sendiri dan ayah dari anaknya. Perasaan itulah yang menyiksa dia. Satu sisi, dia tidak mau membuka aib suaminya.
Tetapi di satu sisi... bathinnya tidak bisa berbohong, jika dia takut dan ngeri. Dia takut anaknya tahu, dia takut akan perkembangan anaknya, dia takut untuk membayangkan ke depannya
Tercengang juga! Kaget juga mendengar ceritanya, kayak mendengar geledek siang bolong. Masak sih berselingkuhnya dengan sesama laki2x??!
PM melanjutkan ceritanya. Sang pacar suami, seorang anak laki2x umur 20th-an berbicara sendiri dengannya. Apa saja yang telah mereka perbuat dan sudah berapa lama hubungan mereka terjalin. Gilanya... PM dianggapnya kakak. Dia mencurahkan isi hati & menuangkan kisah percintaannya tanpa mikir ada hubungannya dengan PM. Sedih, miris, prihatin dan semua rasa yang ada turut merasakan apa yg dia rasakan.
Sederet alasan PM untuk tidak menceritakan hal yang sesungguhnya terjadi 3 tahun lalu, saat dia bercerita perselingkuhan suaminya pada kami. Tapi selama 3 tahun itulah dia mencari tahu seputar kasus yang relevan dengan kasus yang menimpa dirinya, lalu mencari jalan kemungkinan penyembuhan, merenung dan pada akhirnya mengambil keputusan yang matang.
Ya.. itu ceritanya. Ternyata apa yang kita lihat sempurna, tidaklah sesempurna apa yang kita lihat. Tadi saya balik berbisik pada AA, "Mau gak diri lo seperti itu? Mendapatkan apa yang Tuhan berikan padanya... Cepat mendapat pasangan, anak, rumah tangga yang terlihat baik dan kehidupan yg begitu sempurna? Tapi dibalik pemberian Tuhan itu, ada sesuatu hal yang tidak lo ketahui? Sanggupkah menjalankan pelajaran yang Tuhan kasih sama seperti Tuhan kasih ke PM?"
AA cuman nyengir... "Gaaaaaklaaah... Gaklaah... Gw gak akan iri lagi dengan rumput tetangga. Rumput gw lebih hijau! Tuhan Maha Penyayang. Tuhan tahu, gw gak bakal sanggup menerima tes Tuhan seperti itu. Ya Tuhan ya... Jangan kasih aku cobaan kayak gitu. Au zubilah minzalik. Aku gak akan iri lagi kok dengan apa yang Engkau kasih ke setiap orang".
Hmmm... sambil senyam-senyum, saya Aminin doanya.
Semua pengalaman orang lain merupakan pembelajaran buat kita semua, termasuk buat Zezy sendiri. Siapa sih yang tidak ingin memiliki kehidupan yang sempurna sesuai kaca mata diri sendiri? Yang selalu mendapatkan dengan cepat apa yang diinginnkannya?
Tetapi...... ternyata...
Tidak ada hal-hal yang sesempurna sesuai pikiran kita di dunia ini.
Ada banyak hal yang Tuhan bicarakan pada umatnya melalui pengalaman2x teman2x & sekeliling kita, bahwa apa yang Dia berikan sudah ada porsi & takarannya masing2x bagi tiap2x makhluknya. Karena Dia yang Maha Tahu!
Baca Lebih Lengkap...