Sungguh beruntung kita dilahirin sebagai orang yg bisa memeluk suatu kepercayaan dengan baik untuk menjadi pedoman hidup, dan kita bisa ngejalaninnya tanpa harus pusink kepala kebingungan membedakan mana yg benar dan mana yg salah.
Sebetulnya itu hanya masalah kepercayaan. Coba lihat, berapa banyak kepercayaan yang ada di muka bumi ini? Banyak! Banyak sekali. Tapi, apakah semua bisa mengaku benar dan paling benar jika enggak punya rasa percaya.
Percaya itu datang karena kebiasaan. Kenapa Zez bisa bilang gitu?
Seorang kawan terlahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang menganut budaya jawa yg sangat kental.
Gak heran, sewaktu dia beranjak dewasa dan bisa berfikir sejalan dengan kepercayaan yg diyakininya, dirinya merasa bingung. Apa yg harus diperbuat jika menurutnya kebiasaan yang sering dijalaninya & keluarganya dulu menurutnya tak sejalan?
Apakah dia termasuk orang yg tidak melestarikan budayanya?
Ingin rasanya dia memberontak. Tapi gak kuasa, kala kedua orangtuanya tetap menjalankan budaya serta ritual yang menurut mereka usaha untuk buah kebaikan kawanku itu, mencarikan JODOH! Yup, mereka berharap jodoh bagi anak mereka segera tiba.
Mandi, tabur bunga, memakai benda, menyiram minyak wangi dsbnya.
Sejalan dengan itu, kawanku bercerita.. sesekali dirinya tak ingin menolak, meskipun hatinya bertentangan, dan dia menganggap.. tokh.. udah banyak usaha yg dilakukan melalui cara itu, gak juga muncul jodoh baginya.
Pintu kesempatan untuk mengungkapkan betapa tak setujunya dia terhadap kedua orangtuanya mengenai hal itu, belum sempat diucapkan.
Hingga suatu hari, sang Bapak sakit dan meninggal di rumah sakit.
Seluruh anak, menantu berkumpul. Mereka bergantian membacakan doa & membimbing sang bapak untuk mengingat kepada Tuhan.
Menurut kawanku, air mata tak kuat dibendung.. ketika dengan mata kepala sendiri, dia menyaksikan bapaknya yang sudah tak berdaya menampakan ekspresi marah & tidak senang, ketika doa untuk membimbingnya dibisikkan di telinganya. Hingga dalam keadaan sakaratul mautpun ia tak ingin diingatkan Tuhannya.
Sejak kepergian sang bapak, kawanku mulai memberanikan diri membuat pencerahan untuk membukakan pikiran keluarganya yang sudah terbiasa menjalankan ritual yang telah turun temurun & tidak selalu benar.
Dengan berbekal kejadian yang dialami sang bapak ketika sakaratul maut, dia berusaha meyakinkan bahwa kebudayaan yang dapat mensekutukan Tuhan, akan berbuah tak baik bagi yang menjalaninya. Semakin jauh dan jauh.
Usaha itu, masih terus dijalaninya. Tapi alangkah kagetnya dia.. ketika belum sampai 40 hari kematian sang bapak. Si Ibu sudah memanggil ruh bapak melalui bantuan seorang paranormal yang katanya bisa kemasukan ruh orang yg sudah meninggal.
Mungkinkah itu??! Hal yang sudah menjadi kehendak Tuhan dipanggil lagi melalui tangan manusia dan kehendak manusia?Miris & prihatin mendengarnya. Ya itu salah satu adat yang sudah dipercayai sejak dulu, meskipun tidak sejalan dengan keyakinan yang dianutnya.
"Telah putus semua hubungan anak manusia jika dirinya telah dipanggil Tuhannya, kecuali 3 perkara: Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat & anak yang shaleh".
Kasian, kawanku ini. Semoga dia diberikan kekuatan iman, ketabahan & kesabaran untuk bisa membukakan jalan yg terang buat keluarga, saudara2xnya untuk kembali ke jalan Tuhannya, amin




